Ini mungkin tentang aku, tapi kau yang membacanya bisa saja menerawang entah kemana menuju imajinasimu atau pengalaman pribadimu sendiri. Aku pun tak tahu entah apa yang menjadi penyebab aku berpendapat demikian, yang jelas di tulisan ini memanglah jemari dan jalan otakku yang terlihat bekerja secara fisik jika kau melihatnya. Tetapi tanpa bantuan rasa yang dapat kusentuh dengan hati mungkin tak pernah ada liak-liuk huruf-huruf yang menguntai menjadi beberapa kalimat sederhana atau mungkin bisa dikatakan susunan yang amatiran. Yaaa, begitulah congkelan mungil awal dari kau akan memberi arti akan tulisan yang tengah kau baca ini dan bisa pula lah engkau tampilkan pandanganmu seperti apa seorang aku.
Seperti biasa, sesaat dimana segala kegiatan agamis pada waktu subuh telah kompleks kukerjakan barulah aku mempersiapkan jasmaniku entah itu dimulai dari mandi sampai raga ini terlihat begitu rapi dipandang. Semua itu mungkin memakan waktu kurang lebih setengah jam namun tak pernah pasti sebab aku tak pernah menghitung secara konsisten. Perjalanan menjalani haripun aku mulai ketika ku memang telah merasa semua siap sedia, tak jarang aku sedikit menuju kamar kosanku dengan tujuan memastikan penampilanku tidaklah berlebihan dan tidaklah pula acak-acakan pada sekeping cermin.
Berlalu dari itu semua aku mulai melangkah. Senyum, kemudian kulangkahkan awal kaki kananku. Hiruk pikuk jalanan gang yang sempit memang belumlah terdengar, paling hanyalah rengekan anak-anak dari dalam rumahnya yang meminta ini-itu pada sang bunda sebelum mereka menuju rumah pendidikan bagi pemakai seragam putih-merah, yang diselingi teriakan penjual sayur keliling yang sepertinya punya kotak suara yang unlimited walau setiap pagi mentransferkan gelombang suaranya ke rumah-rumah. Bukanlah tak sering pula aku malah disambut dengan kemirisan mengamati onggokan sampah terlihat akrab dengan sekelompok anak yang mungkin sebaya dengan anak-anak yang merengek tadi. Mengapa mereka telah bergumul di tempat itu, padahal matahari pun belum sempat menyentuhnya?
Haaahh...sedikit berlebihan tanggapan dari alur cerita yang sedikit kulemparkan tadi. Semuanya itu merupakan sesuatu hal yang lazim untuk ditemui, entah dimana engkau berada namun yang jelas kakimu masih berpijak di Bumi Pertiwi ini. Sedangkan, bukan semua itu yang ingin kuluberkan padamu yang berkesempatan membaca tulisanku ini dan kemudian kutanggapi. Aku hanya ingin menanggapi rasa yang ditangkap oleh hatiku akan beberapa orang yang kutemui di satu hari perjalananku menjalani hari. Sekali lagi hal ini bukan dikarenakan aku tak bersemangat untuk membahas permasalahan yang lucu akan negeri kita ini, namun aku hanya berpendapat ada saatnya aku bertindak dan berbicara atau menulis belum bisa dijadikan sebuah solusi tanpa ada tindakan nyata.
Masih dijalanan kecil itu.. Lembutnya sapaan seorang wanita membuyarkan segalanya, membuyarkan semua rengekan anak-anak SD, teriakan penjual sayur ataupun pandangan yang tengah mencoba merayu mataku untuk berlinang akan tampilan keakraban tempat sampah dan kelompok anak yang terbiasa disebut pemulung. Suara darinya buatku merasa tergerak untuk tertunduk lalu menatapnya dan hanya mampu membalas.... (sedikit ngantuk neehhh...next time lagi...hehehe ^_^)
No comments:
Post a Comment