Suara dari seorang wanita yang pertama kutemui di awal perjalananku meniti setiap satuan waktu dalam hari itu membuatku terhentak dalam diamku ketika melangkah, sekaligus merasa terbebas dari suatu hal yang sedikit mencuri perhatianku beberapa waktu lalu semenjak aku check-out dari asrama dan berada di rumah keduaku (baca: Kostan). Awalnya aku selalu mendengar sambutan hangat berupa ucapan “berangkat, den...” ketika langkah kakiku menuju ke arah kampus dan ucapan “udah balik, den...” disaat aku pulang. Semua itu tanpa kusadari dan kulalui begitu saja dengan hanya terdiam dalam melangkah, seperti tak peduli siapa yang selalu menyambutku pagi atau petang itu.
Di hari ini, hal itu terbuka. Aku pun pada akhirnya mengetahui siapa yang selalu menyapa semangat pagiku. Dia, atau mungkin patutlah aku menyebutnya dengan sebutan “beliau” atau nenek di dalam cerita ini, sebab selain aku tak tau siapa namanya, beliau adalah seorang wanita tua yang mungkin seusia dengan nenekku. Sapaan dan senyumnya amatlah indah. Setiap pagi dia begitu rajin membuka lapak usahanya, disitulah singgasananya. Langkah pagiku yang terburu-buru pagi itu kusinggahi sejenak dihadapan sang nenek dengan membalas senyuman dan tundukan kepala untuknya. Terasa jauh berbeda perasaanku dibandingkan disaat aku hanya berlalu darinya dengan perasaan yang berat di hari-hari sebelum hari ini. Langkahku pun semakin semangat menuju kampus, sesaat mataku telah dihalangi belokkan gang untuk melihat ke arah tempat berdirinya warung sang nenek itu.
Sedikit melegakan perasaanku ketika telah mendapatkan apa yang selama ini menjadi salah satu topik perbincangan di pemikiranku. Perjalanan menuju kampusku masih akan memaksaku mempercepat gerak kedua kakiku, sebab situasi hanya memberiku waktu beberapa menit lagi untuk menempuh ratusan meter jalur jalan dihadapanku.
Aku terbuai sendiri akan langkah kaki dan gerakan tubuhku, mengangkat semangatku untuk menghadapi hari ini. Tetapi sekitar sepuluh langkah dari hadapanku saat itu, aku serasa mengenal sesosok wanita yang berdiri tepat di depan pintu yang dimiliki sebuah toko penawar jasa melipatgandakan data-data, menjual kertas putih polos dan sebagainya. Yap, aku kenal ia, seorang wanita hebat yang pernah kukenal sebagai asisten dosen ku di salah satu mata kuliah semasa semester satu. Cantik, dan selalu terlihat pintar. Senyumnya pun menyapa balik sapaan ku untuknya.
Kebetulan atau memang keberuntungan bagiku, diberikan izin untuk mendampinginya berjalan menuju tempat yang sama berjarak ratusan meter dan memakan sepuluh menit untuk berjalan ala membawa pasangan. Cerita demi cerita mengalir menemani langkah kaki kami berdua. Share pengalaman darinya dan puluhan pertanyaan dariku pun muncul. Decak kagumku tak pernah hilang untuk wanita yang tengah melangkah bersamaku itu. Aku pun terkadang terpaku, menikmati keindahan sesosok makhluk ciptaan-Nya yang ada disampingku saat itu, hanya langkah hidup kakiku yang bisa menipu orang-orang di sekitar dari kondisi terdamparnya aku di tepi dunia khayalku saat itu.
Sayang aku mesti kembali berenang ke ujung pantai sadarku, meski kuakui aku adalah penyelam yang tak muncul lagi di dunia nyata, tetapi aku wajib untuk kembali dengan berenang saat itu*(lagian sepertinya gak penting untuk dibahas)*. Hal ini dikarenakan dia memisahkan langkahnya dari arah langkah kakiku menuju ruangan kelas yang menjadi tujuan awal aku terbangun mendahului mentari hari ini. Hanya senyum, salam dan lambaian kecil darinya yang bisa kubawa selanjutnya menemani langkahku. Dia, wanita kedua hari ini yang kutemui, hebat, pintar dan cantik...hehehe.
ada dua orang wanita lagi yang ingin kuceritakan bagaimana aku disaat bertemu dan apa penilaian yang timbul dari sudut pandangku terhadap mereka. Aku masih berharap kau mau menampung luberan cerita ku menjalani satu hari di kehidupanku ini namun tentu saja jika kau tak bosan menunggu kelanjutan cerita ini...hehehe ^_^"
No comments:
Post a Comment