Tepat
jam 8 pagi di hari itu riuh di dalam sebuah ruangan kuliah tak kunjung berujung
satu suara hening. Tiap sudut ruangan masih saja menggaung ricuh obrolan para
peserta kuliah pagi buta (meski itu sebutan untuk kuliah yang memiliki jam
masuk yang nyaris seperti masa sekolah menengah). Namun, serentak puluhan gelombang
suara terputus, seakan terpaksa mengalah akan sepotong kalimat salam dari
sesosok pria jangkung, bertubuh ideal dan mungkin berusia dengan kisaran tiga
puluh lima keatas. Masih muda, semangat darinya pun sentak membius seluruh raga
yang ada di ruangan itu. Hanya mampu terdiam sekian detik dan lansung tanggap
untuk menjawab salam hangat dari sang juru kunci ilmu yang akan mereka tadah di
hari itu, dikenal dengan sebutan dosen.
Beberapa
posisi kursi yang berantakkan segera berada di jalur yang semestinya. Tak ada
lagi sekelompok mahasiswi yang berkerumun membicarakan hal yang tak jauh dari
tokoh idola yang mengarah kepada kakak tingkat yang menjadi idaman mereka,
hingga pembincangan hedonisme untuk hari ini. Beberapa mahasiswa yang terlihat
padu membahas pekerjaan kelompok mereka, 3 orang mahasiswa dan seorang
mahasiswi yang membahas pertemuan sebelumnya dari mata kuliah pagi ini, maupun
sepasang insan yang mengefesienkan waktu saat itu dengan bersenda gurau disudut
ruangan itu pun tak terlihat lagi, sesaat sebelum langkah kaki sang dosen
berjarak puluhan meter dari keping kayu yang sebagai celah untuk masuk ke dalam
ruangan itu. Hening, dan rapi.
Kondisi
itu tak berlaku buat seorang mahasiswa di kelas itu. Terasa ia bagai memisah
dari keadaan lingkungan yang bertindak negasi
akan semua tindak-tanduk yang ia lakukan. Apakah ia tak menyadari kehadiran
sang dosen sehingga tak menghiraukan liak-liuk ucapan salam yang merayapi
lubang telinganya, ia tetap saja santai mengeluarkan suara seraya melanjutkan
aktivitas temu sapa dengan teman seperjuangannya yang sedikit lebih baik
darinya, menjawab salam sang dosen. Ketika sang dosen telah memulai secara
resmi perkuliahannya, tetap saja sayup-sayup terdengar suara yang terasa khas
akan logat dan intonasinya dari sang
mahasiswa itu.
Sang dosen terlihat membangun dinding kesabaran yang begitu tebal dan begitu tebal di pelosok hatinya. Tak jarang ia hanya berhenti mencurahkan ilmunya dengan membisu sejenak. Namun, aliran perbincangan si mahasiswa dan temannya itu bak aliran sungai yang menjebol tanggul Kalimalang beberapa waktu yang lalu. Hal itu pun sentak merubuhkan dinding kesabaran yang mungkin sudah setiap minggu direnovasi oleh sang dosen. Ia diam, sejenak menundukkan kepalanya lalu dengan tegas tangan kanannya yang dari tadi bercengkrama dengan sebuah spidol menunjuk ke hulu suara yang saat itu menganggu konsentrasinya. "Anda!! jika berharap bisa leluasa bertindak, jangan di ruangan ini! Perlukah saya yang membukakan pintu untuk Anda untuk keluar..!"
Sentak sang mahasiswa terdiam dan hanya mampu menunduk lalu menggelengkan kepalanya untuk menolak pinta dosen yang memintanya untuk keluar. Sang Dosen tak berhenti sampai pada kalimatnya yang menghentak ketenangan seorang mahasiswa yang tengah dihadapinya itu. Seperti ingin menguji pemahaman sang anak didik, ia mempertanyakan materi kuliah yang diajarkannya. "Menurut Anda, Bagaimana Pemerintah negara ini, perkembangan dan hasil yang dicapai ke depan?" Sebuah pertanyaan yang memang sangat berkaitan dengan materi yang diajarkannya tentang Pendidikan Kewarganegaraan.
Sang mahasiswa hanya terdiam, seperti melanjutkan sikapnya yang terhenyak akan hentakan suara dari dosen yang kini ada di hadapannya. Dia hanya mampu untuk beberapa kali mengulang pertanyaan yang diajukan. Gugup, pastinya...dan dibumbui perasaan yang bersalah. Tapi, entah mendapat ilham dari mana, sang mahasiswa berusaha mengeluarkan pendapatnya untu pertanyaan tersebut. "Pemerintah kita itu sama kayak pelatih dan pemain bola Timnas kita, Pak...!!", Sang mahasiswa menjawab dengan terbata-bata. Sentak seisi ruangan kuliah tertawa. Namun, segera hening disaat sang dosen memintanya melanjutkan pernyataannya.
"Baik Pak, di lapangan bola yang bisa bermain memang hanya 11 pemain melawan 11 pemain tim lawan, Pak. Tapi selain itu ada pelatih juga, ada official juga, ada wasit juga Pak."Sahut sang mahasiswa sedikit bersemangat. "Di Pemerintahan kita ada Presiden, ada Kementrian, ada DPR, Kejaksaan, ada KPK, ada Perbankan dan sebagainya", lanjutnya yang mencoba menganalogikan pemerintahan ke dalam sepakbola.
"Presiden dan Menteri-menteri nya jelas seperti pemain yang sebelas orang tadi Pak, dan Presiden tentunya sebagai Kaptennya. Nah, kalo DPR/MPR sendiri itu seperti wasit pak, yang ngatur gimana permainan bola yang baik dan benar tanpa ada pelanggaran, dibantu kejaksaan, Bappenas dan KPK sebagai hakim garisnya pak". lalu sang mahasiswa terdiam sejenak, lalu melanjutkan. "Nah, kalo pelatihnya ya kita Pak, RAKYAT, ada pemain yang jelek tinggal coret, cari pemain yang lain yang lebih bagus." Tegasnya.
"Dan kalau kita bicara tujuan, Timnas kita tentu menginginkan gelar juara yang bisa membanggakan rakyat Indonesia sendiri, begitu pula Pemerintah, Pak. Seharusnya mereka menginginkan kesejahteraan masyarakat agar dan untuk kebanggaan rakyat Indonesia pula. Sama kan Pak??" Sang Mahasiswa seakan membujuk sang Dosen agar setuju dengan ucapannya. Sang dosen pun mengangguk.
"Ada satu hal lagi Pak yang sama antara Timnas Sepakbola kita dengan Pemerintah kita". Semua mata tertuju pada sesosok pria yang dari tadi berupaya untuk menerangkan jawaban dari pertanyaan yang begitu panjang jawabannya jika dipertanyakan, khususnya bagi negara kita. "Kapan Timnas kita masuk Piala Dunia dan kapan Pemerintah kita berlaku bersih untuk kepentingan rakyatnya??? pertanyaan itu belum bisa terjawab secara pasti Pak waktunya" tegasnya, sambil berdiri dan kemudian memohon maaf serta meminta izin ke kamar kecil. "Demikian Pak, jawaban saya. Saya mohon maaf dari Bapak karena sikap saya sebelumnya, dan...."
"dan apa..?" sang Dosen masih menyangka mahasiswa di hadapannya tersebut masih ingin mengutarakan pendapatnya. "Saya mohon izin ke toilet Pak", jawab sang Mahasiswa dengan singkat, lalu keluar setelah dipersilakkan. Sang Dosen hanya bisa diam setelah mendengarkan jawaban panjang mahasiswanya. Kemudian melanjutkan kuliahnya.
Sang dosen terlihat membangun dinding kesabaran yang begitu tebal dan begitu tebal di pelosok hatinya. Tak jarang ia hanya berhenti mencurahkan ilmunya dengan membisu sejenak. Namun, aliran perbincangan si mahasiswa dan temannya itu bak aliran sungai yang menjebol tanggul Kalimalang beberapa waktu yang lalu. Hal itu pun sentak merubuhkan dinding kesabaran yang mungkin sudah setiap minggu direnovasi oleh sang dosen. Ia diam, sejenak menundukkan kepalanya lalu dengan tegas tangan kanannya yang dari tadi bercengkrama dengan sebuah spidol menunjuk ke hulu suara yang saat itu menganggu konsentrasinya. "Anda!! jika berharap bisa leluasa bertindak, jangan di ruangan ini! Perlukah saya yang membukakan pintu untuk Anda untuk keluar..!"
Sentak sang mahasiswa terdiam dan hanya mampu menunduk lalu menggelengkan kepalanya untuk menolak pinta dosen yang memintanya untuk keluar. Sang Dosen tak berhenti sampai pada kalimatnya yang menghentak ketenangan seorang mahasiswa yang tengah dihadapinya itu. Seperti ingin menguji pemahaman sang anak didik, ia mempertanyakan materi kuliah yang diajarkannya. "Menurut Anda, Bagaimana Pemerintah negara ini, perkembangan dan hasil yang dicapai ke depan?" Sebuah pertanyaan yang memang sangat berkaitan dengan materi yang diajarkannya tentang Pendidikan Kewarganegaraan.
Sang mahasiswa hanya terdiam, seperti melanjutkan sikapnya yang terhenyak akan hentakan suara dari dosen yang kini ada di hadapannya. Dia hanya mampu untuk beberapa kali mengulang pertanyaan yang diajukan. Gugup, pastinya...dan dibumbui perasaan yang bersalah. Tapi, entah mendapat ilham dari mana, sang mahasiswa berusaha mengeluarkan pendapatnya untu pertanyaan tersebut. "Pemerintah kita itu sama kayak pelatih dan pemain bola Timnas kita, Pak...!!", Sang mahasiswa menjawab dengan terbata-bata. Sentak seisi ruangan kuliah tertawa. Namun, segera hening disaat sang dosen memintanya melanjutkan pernyataannya.
"Baik Pak, di lapangan bola yang bisa bermain memang hanya 11 pemain melawan 11 pemain tim lawan, Pak. Tapi selain itu ada pelatih juga, ada official juga, ada wasit juga Pak."Sahut sang mahasiswa sedikit bersemangat. "Di Pemerintahan kita ada Presiden, ada Kementrian, ada DPR, Kejaksaan, ada KPK, ada Perbankan dan sebagainya", lanjutnya yang mencoba menganalogikan pemerintahan ke dalam sepakbola.
"Presiden dan Menteri-menteri nya jelas seperti pemain yang sebelas orang tadi Pak, dan Presiden tentunya sebagai Kaptennya. Nah, kalo DPR/MPR sendiri itu seperti wasit pak, yang ngatur gimana permainan bola yang baik dan benar tanpa ada pelanggaran, dibantu kejaksaan, Bappenas dan KPK sebagai hakim garisnya pak". lalu sang mahasiswa terdiam sejenak, lalu melanjutkan. "Nah, kalo pelatihnya ya kita Pak, RAKYAT, ada pemain yang jelek tinggal coret, cari pemain yang lain yang lebih bagus." Tegasnya.
"Dan kalau kita bicara tujuan, Timnas kita tentu menginginkan gelar juara yang bisa membanggakan rakyat Indonesia sendiri, begitu pula Pemerintah, Pak. Seharusnya mereka menginginkan kesejahteraan masyarakat agar dan untuk kebanggaan rakyat Indonesia pula. Sama kan Pak??" Sang Mahasiswa seakan membujuk sang Dosen agar setuju dengan ucapannya. Sang dosen pun mengangguk.
"Ada satu hal lagi Pak yang sama antara Timnas Sepakbola kita dengan Pemerintah kita". Semua mata tertuju pada sesosok pria yang dari tadi berupaya untuk menerangkan jawaban dari pertanyaan yang begitu panjang jawabannya jika dipertanyakan, khususnya bagi negara kita. "Kapan Timnas kita masuk Piala Dunia dan kapan Pemerintah kita berlaku bersih untuk kepentingan rakyatnya??? pertanyaan itu belum bisa terjawab secara pasti Pak waktunya" tegasnya, sambil berdiri dan kemudian memohon maaf serta meminta izin ke kamar kecil. "Demikian Pak, jawaban saya. Saya mohon maaf dari Bapak karena sikap saya sebelumnya, dan...."
"dan apa..?" sang Dosen masih menyangka mahasiswa di hadapannya tersebut masih ingin mengutarakan pendapatnya. "Saya mohon izin ke toilet Pak", jawab sang Mahasiswa dengan singkat, lalu keluar setelah dipersilakkan. Sang Dosen hanya bisa diam setelah mendengarkan jawaban panjang mahasiswanya. Kemudian melanjutkan kuliahnya.
No comments:
Post a Comment