Sunday, 25 December 2011

Ngeliat Namanya Aja Udah Bikin Sadar...



Hahahaaa....Kalimat itu, yap kalimat di atas yang jadi judul dari cerita ini memang membuat saya tertawa dan tersenyum  sendiri ketika disuruh mengingat kejadiannya. Apalagi jika teman-teman semua menanyakan cerita yang sama kepada seorang teman saya yang bernama Pramono Widagdo, bisa dipanggil Pram, kebanyakan orang memanggilnya Mono dan dia sendiri memperkenalkan diri dengan nama Dagdo kepada anak-anak didik kami di sebuah sekolah dasar di desa Neglasari. Tapi buat memperindah kesan dalam cerita ini sebut saja dia, Pram.

Cerita ini mungkin harus dimulai dengan kisah 3 hari kami di Kuningan, Jawa Barat (Saya, Pram, Puka and empunya rumah di tempat tujuan ---> Papaw). Tapi saya tidak akan menceritakan 3 kami disana sebab terlalu banyak yang mesti diceritakan. Oke, mulainya waktu mau balik ke Bogor aja ya.

“Kalo besok emang mau balik, tidurnya jam 9 malam, bangun jam 4 pagi trus berangkat jam 5 dan gak pake ngompol” itu sms dari Ibunya Papaw yang sejak ia terima sms itu 3 kali dia membacakan ulang kepada saya, Pram dan Puka.
“gak pake ngompol” hmmm....mungkin si Ibu ‘kepo’ pas kita berempat ngobrol di ruang makan, alhasil ketahuan deh ma si Ibu, ada yang pernah ngompol pas di asrama....hahahaha. Tinggal beberapa jam lagi di Kuningan kami menikmati jalannya sisa rentang waktu itu dengan melancong ke Cigugur ber-terapi ikan- yang lebih besar dari ikan terapi biasanya. Pulang dari Cigugur kami melanjutkan ke toko oleh-oleh khas Kuningan, lalu kembali ke rumah dan diberi ‘hadiah’ dari ortu-nya Papaw berupa tambahan oleh-oleh lagi. Malamnya, menyusuri jalanan tenang di Kuningan jadi sebuah penutup yang begitu akan dirindukan bisa terulang kembali.

Sudah cukup, dengan suasana malam itu. Setelah mencicipi Mie Koclok khas Cirebon yang sejak masih di Bogor selalu diceritakan oleh Papaw dan setelah bergila serta ber-alay- ria di depan Mesjid Syiarul Islam Kuningan, lelah pun menjelma, tidur menjadi solusi terbaik saat itu.
      .....

Jam 4 pagi.

Pram terbangun duluan, beranjak dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi, dan saya masih mencoba mengumpulkan serpihan jiwa yang sedikit tercecer di awang-awang. Sekitar 4.15 baru saya dapat menyusul Pram menuju kamar mandi, dan mandi di kamar mandi sebelah tempat Pram menyegarkan diri alias mandi. Shalat shubuh, lalu sarapan dan men-check- akhir keseluruhan kelengkapan. Pram, Puka dan Saya siap menuju Bogor. Tanpa diikuti Papaw yang masih menghabiskan sisa liburan akhir tahunnya bersama keluarga. “Sampai jumpa Kuningan...Apa kabar Bogor???”  itu –tweet- saya, pembuka waktu pagi di dunia maya.

Jam 6.15, barulah bis yang bakal membawa kami bertiga kembali ke Bogor, tiba di tempat pemberhentiannya di Kuningan. Bis itu pula yang memisahkan suasana yang dekat antara kami bertiga dengan keluarga Papaw. “Kenapa sekarang sih ke Bogornya....?” segelontoran kata tanya dari Papaw dan keluarga yang hanya bisa kami jawab dengan senyuman. Takut merepotkan jika lebih lama dan takut kesenangan jika berlama di kuningan lalu lupa akan UAS yang menunggu di tanggal 3 Januari. Hmmm...ya sudahlah, lain waktu bakal ke Kuningan lagi.

Perasaan kantuk dan lelah sudah terbayang seketika kami duduk di dalam bis itu. Sekitar 6 sampai 7 jam harus dijalani dengan duduk, itupun dengan asumsi Ceteris Paribus untuk jalanan lancar alias tidak ada macet dan variabel penganggu perjalanan lainnya.
.......

Mungkin teman-teman ada yang pernah mendapatkan informasi tentang organ tubuh kita, yaitu setiap 6 jam kantung kemih kita akan penuh dan pertanda kita harus buang air kecil (BAK). Itu tidak terbukti pada saya, Puka dan juga Pram. Informasi itu terpatahkan kebenarannya, sebab baru saja 3 jam waktu berjalan selama kami di dalam bis saya harus mulai menahan hasrat untuk BAK, dan saya hanya bisa diam dan berharap bis yang ber-brand-kan Leragung Termuda berhenti sejenak di suatu tempat yang memiliki toilet umum. Menyangka hanya saya yang merasakan penderitaan itu saya pun hanya bisa diam dan menghibur diri dengan cara meletak earphone di telinga (mendengarkan musik). Tetapi ternyata, ada seseorang yang turut merasakan penderitaan itu, yaitu Puka. Entah mengapa aku merasa Puka merasakan lebih ketika ia mengatakan kalau ginjalnya udah sakit, mungkin karena terlalu lama menunggu kepastian sopir bis untuk memberhentikan sejenak bis yang dikendarainya. -maaf ya puka, saya n Pram gak bisa berbuat lebih selain meminta kepada kenek bis untuk berhenti-  dan ternyata kami bertiga sudah lama menahan hasrat untuk nge-BAK.
..........

Setelah kejadian itu perjalanan terasa lengang, tak ada yang dibicarakan hingga sampai di tempat tujuan, Bogor –tepatnya- Baranang Siang @13.05 pm. Langkah kaki-kaki kami yang letih harus dilanjutkan menuju Dramaga, IPB. Letih, mengantuk dan kepanasan pastinya turut memperlambat langkah kami. Seakan mendapat sedikit semangat untuk bertahan lebih lama lagi disaat kami mampu menumpangi angkot 03 bertujuan terminal Bubulak. Diam. Kami hanya terfokus ke jalanan.

Sampai di terminal Bubulak... sekitar jam 1.45 siang...

Awalnya saya ingin berpisah dengan Pram dan Puka dengan menaiki angkot jurusan Kampus Dalam, namun angkot yang diinginkan itu tidak ada di terminal itu (kalaupun ada pasti nge-tem-nya lama). Saya pun mengikuti mereka berdua naik angkot dengan tujuan Ciampea. Nah, disini lah sebenar inti cerita jika teman-teman ingin mengetahui mengapa saya beri cerita ini dengan judul di atas.

Puka memilih duduk di depan, Pram dan Saya duduk di belakang. Kebetulan atau sudah menjadi nasib kami untuk menaiki angkot yang sebelumnya telah saya sebutkan. Tua, namun mungkin Pak Sopir nya lebih tua, dan terdapat pula seorang penumpang yang sudah lanjut usia di dalamnya. Hmm...tetapi, yang menjadi keuntungannya adalah angkot dengan kriteria demikian tidak mengenal “ngetem”, penumpang yang hanya berjumlah 4 orang pun dibawa tanpa menunggu isi angkot itu penuh. Santai, namun tak elegan sebab mobil angkot yang ada kami didalamnya ini selalu tersalip oleh mobil angkot yang lainnya. Ke-santai-an laju jalan mobil ini membuat Pram dan saya mulai ingin tidur, tingkat kesadaran kami berdua mungkin hanya sekitar 30-40% lagi, mata kami pun memandang jauh entah kemana. Tapi, sebuah mobil angkot menyalip dari sisi kiri jalan dengan kecepatan yang lumayan kencang, kira-kira 70 Km/jam versus 40 Km/jam milik angkot yang kami tumpangi. Teman-teman bisa lah membayangkan betapa sigapnya laju angkot yang menyalip kami.

Kemudian saya memandang ke arah teman saya yang bernama lengkap Pramono Widagdo itu. Tersenyum lalu saya tertawa. Masih masalah kejadian angkot yang menyalip tadi, namun bukan masalah seberapa kencang kecepatannya. Melainkan tulisan dibelakang angkot yang menyalip tadi. “lu ngeliat gak tadi?” itulah kalimat yang keluar dari Pram. Dengan mengangguk sebagai tanda bahwa juga hanya care terhadap hal yang sama dari angkot yang menyalip tadi. Lalu, kami mencari angkot tadi untuk mengetahui kemana perginya untuk memastikan hal yang kami lihat. Rasa kantuk hilang, letih serasa buyar dan panasnya udara seakan tak terasa. Semua itu hanya dikarenakan sebuah nama, ya...dibelakang angkot tadi ada tulisan nama seorang Mahasiswi Ekonomi Syariah, teman sekelas kami. Bisa dibilang banyak dikagumi oleh mahasiswa-mahasiswa di kelas, termasuk Pram (gak tau bener gaknya sih). Tapi, itu hanya sebuah nama looohh.... sebuah nama saja. Itupun bisa membuat kami tersadar dari hal-hal yang menjengkelkan dalam menjalani hari. Kami pun berguyon, “itu baru nama dia doang yang kita liat, kalo fotonya dia yang dipampang di belakang angkot tadi gimana tuh....hahaha”

Akhir perjalanan yang cantik, secantik orang yang memiliki nama yang kami lihat tadi #eh. Puka kelihatan bingung, atau malah masih merasa sakit, ah sudahlah. Saya dan Pram menikmati sendiri kebodohan yang kami alami...hehehe ^_^

thanks to :
  •          Fauziyah Adzimatinur serta keluarga, buat segala jamuan 3 hari di Kuningan dan oleh-olehnya
  •          Pramono Widagdo dan Putri Eka Ayuni S
  •          Dan orang yang merasa bahwa namanya lah yang ada di angkot tersebut.

No comments:

Post a Comment