Awal saya berani bermimpi besar adalah dari ini
Si bocah yang tentunya masih kecil baru saja
masuk Sekolah Dasar (SD) usia kurang lebih 6 tahun, hmm... genap 6 tahun sebab
bertepatan di ulang tahunnya. Saat itu, bapak mau memberikan jajan untuk hadiah
sebagai bentuk saya berulang tahun ke-6 kalinya. Bapak mengeluarkan dompet,
sambil jongkok dihadapan si Bocah yang mulai merengek minta selembar kertas
yang bisa disulap jadi makanan ringan seperti chiki, bon-bon (permen) atau es
lilin; yang dikenal dengan sebutan uang atau duit.
"Mau yang mana?"
tanya bapak. Si Bocah dengan cekatan minta yang warna merah, "Itu yang
duit merah!!". Bapak senyum. Lalu mengeluarkan selembar kertas yang saya
sebut duit. Yap, benar duit itu berwarna merah tapi sedikit lebih pudar dan
bulatan yang ada pun hanya dua, tidak cocok dengan pilihan si Bocah. Langsung duit
yang diberikan dilempar saja ke lantai, lalu menangis dan mengurung diri di
kamar. Kemudian keluar kamar disaat perut lapar dan telah bangun dari tertidur
karena lelah menangis.
Disaat makan, bapak menghampiri si Bocah. Bapak
menaruh duit merah yang dimaksud si Bocah, lalu pergi kerja sembari mengucap
salam.
.....
Sudahlah, itu peristiwa si Bocah (saya) mengenal
dan mendapat duit merah itu berbeda kisahnya. Setidaknya ada beberapa hal yang
si Bocah pikirkan dan ingin dilakukan setelah mendapatkan lalu memperhatikan
duit merahnya
- Si Bocah bertanya kepada mamak-nya gambar yang ada di
duit itu? (Candi Borobudur) ia mau kesana.
- Si Bocah mengeluarkan duitnya yang lain yang dibaliknya ada gambar orang utan, lalu tertuju kepada dua coretan (Tanda tangan Gubernur BI dan Deputi) yang kala itu sama di dua duit itu. Lalu ia ingin memiliki coretan sendiri di duit-duit semua orang.
- Si Bocah ke warung lalu jajan. Sayang, si Bocah belum kepikiran untuk menyimpan duit merah pertamanya.


No comments:
Post a Comment